Sejarah Pendirian Organisasi PGRI

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan salah satu organisasi profesi tertua dan terbesar di Indonesia. Ia bukan hanya wadah bagi para pendidik, tetapi juga simbol perjuangan, pengabdian, dan keutuhan bangsa dalam bidang pendidikan. PGRI lahir dari semangat nasionalisme dan cita-cita luhur untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, bukan hanya secara politik, tetapi juga secara intelektual dan kultural. Karena itu, sejarah PGRI tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia itu sendiri.

Organisasi ini menjadi saksi bagaimana kaum guru berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan karakter bangsa, serta pengabdian di bidang pendidikan sejak masa kolonial hingga era modern saat ini.

Akar Sejarah Sebelum Kemerdekaan

Sebelum Republik Indonesia berdiri, kehidupan guru pribumi berada dalam tekanan dan keterbatasan yang sangat berat. Pada masa penjajahan Belanda, sistem pendidikan dibangun untuk kepentingan kolonial semata, bukan untuk mencerdaskan rakyat Indonesia. Sekolah-sekolah yang disediakan untuk rakyat pribumi hanya sebatas mengajarkan baca, tulis, hitung, dan keterampilan dasar agar mereka bisa bekerja sebagai tenaga rendahan.

Dalam situasi inilah, muncul kesadaran di kalangan guru-guru pribumi untuk berorganisasi. Mereka menyadari bahwa pendidikan harus menjadi alat perjuangan, bukan sekadar alat untuk melayani kepentingan penjajah. Maka pada awal abad ke-20, berdirilah sejumlah organisasi guru yang berlandaskan semangat nasionalisme.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang berdiri pada tahun 1912.
  • Persatuan Guru Bantu (PGB).
  • Perserikatan Guru Desa (PGD).
  • Persatuan Guru Ambacht School (PGAS).
  • Persatuan Guru Sekolah Lanjutan (PGSL), dan organisasi guru lainnya.

PGHB menjadi organisasi yang paling dikenal dan berpengaruh. Keanggotaannya terdiri atas guru-guru pribumi yang mengajar di sekolah-sekolah pemerintah kolonial. Walaupun pada awalnya organisasi ini tidak bersifat politik, namun secara perlahan mulai berkembang menjadi wadah perjuangan untuk menuntut perbaikan nasib guru dan menentang diskriminasi yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap guru pribumi.

PGHB berjuang keras menuntut persamaan hak dan gaji antara guru pribumi dan guru Eropa. Selain itu, mereka juga memperjuangkan peningkatan mutu pendidikan agar rakyat Indonesia dapat memiliki akses yang lebih luas terhadap ilmu pengetahuan.

Dari PGHB ke PGI: Lahirnya Semangat Nasionalisme Pendidikan

Perkembangan kesadaran nasional di awal abad ke-20 yang ditandai dengan berdirinya Budi Utomo (1908), Sarekat Islam (1911), dan Indische Partij (1912) turut mempengaruhi gerakan di kalangan guru. Guru bukan sekadar pengajar di sekolah, tetapi menjadi penyebar ide kebangsaan dan pembentuk kesadaran nasional.

Pada tahun 1932, PGHB berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pergantian nama ini bukan sekadar perubahan administratif, tetapi memiliki makna politik dan ideologis yang mendalam. Dengan menggunakan kata “Indonesia”, organisasi ini secara terbuka menyatakan diri sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan bangsa.

Tindakan ini membuat pemerintah kolonial Belanda khawatir. Kata “Indonesia” dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Karena itu, pemerintah Belanda berusaha membatasi kegiatan PGI dan mengawasi gerakannya. Namun, semangat nasionalisme para guru tidak padam. Mereka terus berjuang melalui bidang pendidikan untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada murid-muridnya.

PGI menjadi wadah perjuangan yang strategis karena guru memiliki pengaruh besar di masyarakat. Guru tidak hanya menjadi penyampai ilmu, tetapi juga pemimpin moral dan agen perubahan sosial. Di masa itu, sekolah-sekolah menjadi tempat persemaian semangat kebangsaan yang kelak melahirkan generasi pejuang kemerdekaan.

Masa Penjajahan Jepang: Pendidikan sebagai Alat Propaganda

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, sistem pendidikan kembali mengalami perubahan besar. Jepang membubarkan semua organisasi yang berbau Belanda, termasuk organisasi guru seperti PGI. Mereka menggantinya dengan organisasi bentukan sendiri yang bersifat militeristik dan dipakai untuk propaganda kekuasaan Jepang.

Namun, di balik kebijakan tersebut, semangat nasionalisme para guru tidak padam. Para guru tetap melanjutkan perjuangan dengan cara-cara tersembunyi. Mereka menggunakan kesempatan di sekolah untuk menanamkan semangat cinta tanah air dan nilai-nilai kebangsaan kepada para siswa.

Banyak guru yang juga aktif dalam organisasi bawah tanah, mendukung perjuangan rakyat melawan penjajah, bahkan ikut dalam perlawanan fisik. Dengan keterbatasan sarana dan tekanan dari penguasa Jepang, guru tetap berdiri teguh sebagai penjaga moral bangsa.

Lahirnya PGRI: 25 November 1945

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menghadapi tantangan besar: mempertahankan kemerdekaan dan membangun negara yang baru lahir. Dalam situasi yang serba sulit ini, para guru merasa perlu untuk bersatu dalam satu wadah perjuangan yang kuat.

Pada tanggal 24–25 November 1945, di Surakarta (Solo), diselenggarakan Kongres Guru Indonesia yang dihadiri oleh berbagai perwakilan organisasi guru dari seluruh Indonesia. Mereka datang dengan semangat persatuan dan cita-cita bersama: memerdekakan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari kongres inilah lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945 — hanya beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Kongres tersebut menghasilkan tiga tekad utama yang menjadi semangat berdirinya PGRI:

  1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
  2. Memajukan pendidikan di seluruh tanah air.
  3. Memperjuangkan nasib dan kedudukan guru.

Tanggal 25 November kemudian ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional, yang setiap tahun diperingati sebagai penghargaan terhadap jasa dan perjuangan para guru di seluruh Indonesia.

Peran PGRI dalam Perjuangan Kemerdekaan

Setelah berdiri, PGRI tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, tetapi juga turut aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Banyak anggota PGRI yang terlibat langsung dalam perang kemerdekaan melawan pasukan Sekutu dan Belanda.

Para guru mengajar di sekolah sambil menjadi pejuang di medan pertempuran. Mereka menjadi kurir, penyampai pesan, bahkan ikut dalam pertempuran bersenjata. Sekolah-sekolah pun sering dijadikan tempat persembunyian pejuang dan pusat logistik.

Selain itu, PGRI juga berperan dalam menyusun sistem pendidikan nasional yang mandiri. PGRI menolak sistem pendidikan kolonial dan berusaha membangun kurikulum yang berlandaskan semangat nasionalisme, kepribadian Indonesia, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Perkembangan PGRI Pasca-Kemerdekaan

Setelah situasi politik mulai stabil, PGRI mulai memusatkan perhatian pada bidang pendidikan dan kesejahteraan guru. Organisasi ini berjuang agar guru memperoleh kedudukan yang layak sebagai tenaga profesional yang memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa.

Pada masa Orde Lama, PGRI mengalami dinamika yang cukup berat karena politik Indonesia saat itu sangat bergejolak. Namun, PGRI tetap berpegang pada prinsipnya sebagai organisasi yang bersifat universal, independen, dan non-partisan, dengan fokus utama pada pengabdian terhadap dunia pendidikan.

Memasuki masa Orde Baru (1966–1998), PGRI semakin memperkuat diri sebagai organisasi profesi sekaligus mitra pemerintah dalam membangun pendidikan nasional. PGRI menjadi wadah resmi bagi guru di seluruh Indonesia dan berperan dalam meningkatkan kompetensi, kesejahteraan, serta perlindungan hukum bagi guru.

PGRI di Era Reformasi

Era Reformasi membawa angin perubahan bagi berbagai organisasi masyarakat, termasuk PGRI. Setelah tumbangnya Orde Baru pada 1998, PGRI melakukan pembenahan organisasi dan memperkuat jati dirinya sebagai organisasi profesi guru yang mandiri, demokratis, dan terbuka.

PGRI menegaskan kembali fungsinya sebagai:

  1. Organisasi perjuangan, yang memperjuangkan hak dan kepentingan guru.
  2. Organisasi profesi, yang membina dan meningkatkan kompetensi serta etika profesi guru.
  3. Organisasi ketenagakerjaan, yang memperjuangkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan.

Dalam era globalisasi dan digitalisasi saat ini, PGRI beradaptasi dengan berbagai perubahan dunia pendidikan. Organisasi ini aktif mendorong inovasi pembelajaran, penggunaan teknologi pendidikan, serta peningkatan kualitas guru agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

PGRI juga terus memperjuangkan nasib guru honorer, memperkuat pelatihan profesional, dan menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan di dalam dan luar negeri.

Struktur dan Jaringan PGRI

PGRI memiliki struktur organisasi yang luas dan kuat. Dari tingkat pusat hingga daerah, jaringan PGRI terbentuk di seluruh provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan dan sekolah.

Secara umum, struktur PGRI terdiri atas:

  • Pengurus Besar (PB PGRI) di tingkat nasional.
  • Pengurus Provinsi (PGRI Provinsi).
  • Pengurus Kabupaten/Kota (PGRI Kabupaten/Kota).
  • Pengurus Cabang (PGRI Kecamatan).
  • Ranting PGRI di tingkat satuan pendidikan (sekolah).

Struktur yang berlapis ini memungkinkan PGRI menjangkau seluruh lapisan guru di Indonesia, sehingga aspirasi dan kebutuhan anggota dapat terakomodasi dengan baik.

Makna dan Filosofi PGRI

Lambang PGRI menggambarkan semangat pengabdian dan tanggung jawab yang luhur. Di dalamnya terdapat pena, obor, dan buku terbuka, yang melambangkan sumber ilmu pengetahuan dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Moto PGRI yang terkenal adalah:

“Dedikasi, Integritas, dan Loyalitas untuk Mencerdaskan Bangsa.”

Filosofi yang terkandung di dalamnya adalah bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Guru menjadi pilar utama pembentukan karakter, moral, dan peradaban bangsa.

Peran PGRI di Masa Kini

Di masa kini, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan tuntutan global menuntut guru untuk terus beradaptasi. PGRI hadir untuk memastikan bahwa guru tidak tertinggal dalam arus perubahan tersebut.

Beberapa fokus perjuangan PGRI saat ini antara lain:

  • Mendorong peningkatan profesionalisme dan sertifikasi guru.
  • Memperjuangkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer.
  • Mengembangkan pendidikan karakter dan nilai-nilai kebangsaan.
  • Memperkuat solidaritas antaranggota dan kolaborasi lintas profesi.
  • Mengadvokasi kebijakan pendidikan yang berpihak pada guru dan peserta didik.

PGRI juga aktif dalam kegiatan internasional melalui kerja sama dengan organisasi guru di berbagai negara, seperti Education International (EI), sehingga memperluas jangkauan perjuangannya di tingkat global.

Penutup

Sejarah panjang PGRI adalah sejarah perjuangan yang penuh semangat dan pengabdian. Sejak zaman penjajahan hingga era digital, guru-guru Indonesia tetap setia menjalankan panggilan sucinya: mencerdaskan kehidupan bangsa.

PGRI bukan hanya organisasi profesi, tetapi juga gerakan moral dan sosial yang meneguhkan peran guru sebagai garda terdepan pembangunan bangsa. Di tangan para guru, nasib generasi masa depan ditentukan.

Semangat yang melahirkan PGRI pada 25 November 1945 — semangat persatuan, perjuangan, dan pengabdian — harus terus hidup dalam setiap langkah guru Indonesia. Karena sesungguhnya, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pelita bangsa, penerang dalam gelapnya kebodohan, dan penggerak kemajuan peradaban.

 

Daftar Pustaka

  1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (1995). Sejarah PGRI dan Peranan Guru dalam Perjuangan Bangsa. Jakarta: Depdikbud.
  2. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). (2018). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Guru Republik Indonesia. Jakarta: PB PGRI.
  3. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). (2021). Sejarah Singkat PGRI. Diakses dari https://pgri.or.id/sejarah-pgri
  4. Gunawan, A. H. (2008). Pendidikan dan Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Bandung: Alfabeta.
  5. Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformasional untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.
  6. Suyatno. (2012). Pendidikan Nasional dalam Perspektif Historis. Yogyakarta: UNY Press.
  7. Hamid, S. (2017). Peran Guru dalam Membangun Bangsa: Refleksi atas Perjalanan PGRI. Jakarta: PT Rajawali Pers.
  8. Sardiman, A. M. (2011). Guru dan Peranannya dalam Pendidikan Nasional. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
  9. Sutopo, A. (2019). “Perjuangan Guru dalam Membangun Pendidikan Nasional di Masa Revolusi Fisik.” Jurnal Sejarah dan Pendidikan, 15(2), 45–60.
  10. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Profil Guru dan Tenaga Kependidikan Indonesia. Jakarta: Kemendikbudristek.
  11. Djojonegoro, Wardiman. (1996). Pendidikan dan Pembangunan Nasional: Menuju Era Globalisasi. Jakarta: Balai Pustaka.
  12. Soedijarto. (1993). Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
  13. Nugroho, A. (2020). “Transformasi PGRI di Era Digitalisasi Pendidikan.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Guru Indonesia, 5(1), 12–25.
  14. Ismail, Z. (2005). Sejarah dan Dinamika Organisasi Guru di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
  15. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). (2003). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Amandemen). Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *